Pendekatan Komunikatif
Dalam Pembelajaran Bahasa Arab
A. Pendahuluan
Peran bahasa bagi kehidupan manusia demikian penting sehingga pengajaran bahasa menuntut kecermatan, tujuannya agar bahasa bermakna fungsional. Oleh karena itu, terdapat perbedaan filosofi antara belajar berbahasa dengan belajar pengetahuan yang lain. Belajar pengetahuan pada umumnya, seseorang dituntut untuk mengetahui secara kognitif, afektif, dan psikomotor. Hal ini menurut Syaifullah Kamalie (2005) berbeda dengan belajar berbahasa (mendengar, membaca, berbicara, dan menulis) yang merupakan alat ekspresi dan komunikasi, maka seseorang dituntut untuk belajar mengaplikasikan bahasa itu sendiri dalam berekspresi dan berkomunikasi sehari-hari. Bahasa bukan hanya dipelajari secara teoretik, melainkan dipelajari secara praktis dan fungsional. Dalam pembelajaran berbahasa, apalah arti sebuah konsep dan teori, jika tidak pernah dipergunakan/dipraktikkan dalam interaksi sosial di masyarakat.
Dalam perspektif tersebut, berlaku teori learning by doing (belajar sambil dipraktikkan). Tanpa melakukan praktik secara langsung, maka konsep itu bukan lagi dikatakan sebagai belajar berbahasa, melainkan belajar tentang bahasa. Hal tersebut tidak menyentuh substansi/hakikat belajar bahasa sebagaimana yang diharapkan. Filosofi di atas menggambarkan bahwa bahasa merupakan pengetahuan instrumental yang menuntut penguasaan secara teknis fungsional, artinya bahwa belajar bahasa adalah praktik langsung dan upaya pembiasaan.
Pendekatan komunikatif diyakini sebagai salah satu asumsi yang dapat menjadi landasan tepat untuk digunakan dalam pembelajaran bahasa asing, termasuk di dalamnya bahasa Arab. Pendekatan ini menurut Azhar Arsyad (2003) secara sosiolinguistik maupun psikolinguistik lebih sesuai dengan hakikat bahasa, khususnya bahasa Arab sebagai salah satu bahasa Internasional yang mempunyai karakteristik tersendiri.
B. Sejarah Perkembangan Pendekatan Komunikatif
Awal kemunculan pendekatan komunikatif ini dilatari oleh ketidak puasannya terhadap penggunaan metode audio-lingual, yang meski telah berjalan sejak tahun enam puluhan, tetapi tidak kunjung memberikan perubahan berupa kemampuan berkomuikasi secara lancar. Teori yang dijadikan landasan pun sering dikecam oleh para linguis karena suatu pendekatan aural-oral atau metode audio-lingual didasarkan atas teori tata bahasa strukturalisme dan teori ilmu jiwa behaviorisme.6
Noam Chomsky, seorang pencetus teori tata bahasa transformasi-generatif dari Amerika Serikat sangat mengecam linguistik struktural karena teori ini tidak mampu menunjukan hubungan- hubungan yang berkaitan dengan makna, dan tidak mampu menunjukkan hubungan antarkalimat.
Teori ini hanya menyentuh struktur luar dan kalimat-kalimat yang pola dan trukturnya sama, bisa memiliki makna yang berbeda.7 Chomsky juga mengkritik teori behaviorisme untuk landasan pembelajaran bahasa karena kemampuan berbahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor dari luar (eksternal), melainkan juga faktor dari dalam (internal). Sebenarnya, setiap manusia memiliki kemampuan belajar bahasa yang dibawa sejak lahir, yang biasa disebut dengan jihaz iktisab al-lughah atau Language Acquisition Devic (LAD). Di samping itu, Chomsky mempersoalkan relevansi dari aktivitas peniruan, pengulangan, rangsangan, dan penguatan yang menjadi fokus perhatian dari behaviorisme.
Kritikan yang disampaikan Chomsky ini akhirnya mendorong para ahli dan praktisi pengajaran bahasa untuk melakukan evaluasi terhadap konsep-konsep pembelajaran bahasa yang berlaku selama ini. Oleh karena itu, bersamaan dengan lahirnya teori kognitivisme dalam psikologi, teori transformasi- generatif dalam linguistik, dan teori LAD dalam psikolinguistik, maka muncullah berbagai pendekatan dan metode baru dalam pengajaran bahasa, antara lain: metode pemahaman dan pemecahan kode-kode bahasa (cognitive code learning), metode guru diam (silent way), metode belajar bahasa pemahaman (community language learning), pendekatan alamiah (the natural approach), dan yang terakhir adalah pendekatan komunikatif (the communicative approach).8
C. Makna Pendekatan Komunikatif
Pendekatan (approach) pengajaran bahasa sering dipahami sebagai sekumpulan asumsi mengenai hakikat bahasa, pengajaran bahasa, dan belajar bahasa. Kebenarannya tentu bersifat umum dan aksiomatik (Muljanto Sumardi:1983). Pendekatan ini kemudian diterjemahkan secara lebih operasional dan melahirkan berbagai metode, teknik, dan strategi untuk menguasai bahasa.
Pendekatan komunikatif mempunyai karakteristik tersendiri, karenanya dipandang sangat cocok digunakan dalam pengajaran bahasa asing, termasuk di dalamnya bahasa Arab. Pendekatan komunikatif mengasumsikan bahwa hakikat bahasa sebagaimana dikemukakan Ali al-Khuly (1982) adalah medium komunikasi antar individu dalam masyarakat, dalam rangka mentransfer berbagai pikiran, tanggapan, maupun perasaan. Pendekatan ini lebih menekankan pada fungsionalisasi bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, aktivitas pengajaran lebih menonjolkan aspek latihan dan pembiasaan berekspresi, kemampuan memahami, dan memberi tanggapan terhadap apa yang diucapkan orang lain.
Dengan pendekatan komunikatif tersebut, orang yang belajar bahasa harus memperoleh latihan- latihan mengenali bunyi secara baik, membedakan satu bunyi dengan bunyi yang lainnya, membedakan satu kata dengan kata lainnya, suatu kalimat dengan kalimat lainnya, dan mengenali penanda gramatika satu dengan lainnya (العلامات النحوية) seperti urutan kata, imbuhan, dan intonasi. Ketika komunikasi itu menggunakan bahasa tulisan, maka target utamanya adalah kemampuan menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan, dan kemampuan memahami apa yang dibaca. Menurut Muhbib Abdul Wahab (2004) kemampuan ini dapat diperoleh jika tahap pengenalan dan penggunaan secara lisan telah dapat dikuasai terlebih dahulu. Dengan kata lain, latihan-latihan membaca (قراءة) dan menulis (كتابة) hendaknya merupakan refleksi dan reproduksi dari latihan-latihan mendengar (استماع) dan mengucapkan (كلام).
Muhbib Abdul Wahab (2004) lebih lanjut mengatakan bahwa pendekatan komunikatif ini memiliki tiga tujuan utama, yakni (1) mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berbicara dengan menggunakan bahasa Arab, (2) mengembangkan perbendaharaan bahasa dan fungsionalisasi pengetahuan kebahasaan mereka dalam bertanya jawab secara alami dalam situasi yang bervariasi, dan (3) mengembangkan kemampuan dalam berkreasi dan berkomunikasi lisan secara efektif dengan sesamanya dan dengan penutur bahasa Arab. Bahkan, menurut Mulyanto Sumardi (1989) pendekatan komunikatif ini sangat cocok digunakan untuk kelas-kelas pada sekolah di Indonesia karena tidak menuntut teknologi yang canggih.
D. Karakteristik Pendekatan Komunikatif
Terdapat beberapa karakteristik dalam pendekatan komunikatif ini sebagaimana yang dikemukaka Ahmad Fuad Efendi (2003), antara lain sebagai berikut.
a. Tujuan pembelajaran bahasa adalah mengembangkan kemampuan pelajar untukberkomunikasi secara langsung dengan menggunakan bahasa target dalam konteks komunikasi yang sesungguhnya atau dalam situasi kehidupan yang nyata (real). Tujuan pendekatan komunikatif ini tidak diarahkan untuk penguasaan gramatika atau kemampuan membuat kalimat gramatikal yang bersifat pasif-teoretik saja, melainkan pada kemampuan memproduk ujaran yang sesuai dengan konteks.
b. Hal yang mendasar dari pendekatan komunikatif ini adalah kebermaknaan dari setiap bentuk bahasa yang dipelajari dan keterkaitan bentuk, ragam, dan makna bahasa dengan situasi dan konteks berbahasa itu.
c. Dalam proses belajar-mengajar siswa bertindak sebagai komunikator yang berperan aktif dalam aktivitas komunikasi yang sesungguhnya, sedangkan pengajar memprakarsai dan merancang berbagai pola interaksi antarsiswa,dan berperan sebagai fasilitator.
d. Aktivitas dalam kelas diwarnai secara nyata dan dominan oleh kegiatan–kegiatan komunikasi, bukan latihan-latihan manipulatif dan peniruan-peniruan tanpa makna.
e. Materi yang disajikan bervariasi, tidak hanya mengandalkan buku teks, tetapi lebih ditekankan pada bahan-bahan otentik (berita koran, majalah, iklan, dan sebagainya). Dari bahan-bahan tersebut, pemerolehan bahasa pelajar diharapkan meliputi bentuk, makna, fungsi, dan konteks sosial.
f. Penggunaan bahasa pertama dalam kelas tidak dilarang sama sekali, tetapi alangkah baiknya dikurangi.
g. Dalam pendekatan komunikatif, kesiapan siswa ditoleransi untuk mendorong keberanian berkomunikasi.
h. Evaluasi dalam pendekatan komunikatif ditekankan pada kemampuan menggunakan bahasa dalam kehidupan nyata, bukan pada penguasaan struktur bahasa atau gramatika.
E. Prinsip-prinsip dalam Penggunaan Pendekatan Komunikatif
Savignon (1983), seperti dikutip Ahmad Fuad Efendy (2003), menegaskan bahwa terdapat beberapa prinsip dasar (asumsi) yang menjadi landasan pendekatan komunikatif dan sekaligus membedakannya dengan prinsip yang dijadikan landasan metode audio-lingual. Diantara prinsip-prinp tersebut adalah :
1) Pendekatan komunikatif bersifat dinamais, dalam praktiknya tergantung pada negosiasi makna antara dua penutur atau lebih yang sama-sama mengenal kaidah pemakaian bahasa. Dengan demikian, pendekatan komunikatif lebih bersifat interpersonal daripada intrapersonal.
2) Pendekatan komunikatif berlaku pada bahasa lisan, bahasa tulisan dan berbagai sistem simbol lainnya.
3) Pendekatan komunikatif bersifat kontekstual, karena komunikasi terjadi pada berbagai situasi. Maka kegiatan berbahasa harus memperhatikan pilihan ragam dan gaya bahasa yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
4) Dalam pendekatan komunikatif lebih ditekankan performansi bahasa bukan kompetensi bahasa. Sebab, kompetensi lebih berorientasi pada apa yang diketahui, sedangkan performansi adalah apa yang dilakukan. Dengan demikian performansilah yang bisa diamati, dikembangkan, dipertahankan dan dievaluasi.
5) Pendekatan komunikatif bersifat relatif, tidak absolut.Dalam hal ini tergantung pada kerjasama antara partisifan yang terlibat.
Selanjutnya, penggunaan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa berkaitan erat dengan pemilihan bahan ajar yang akan disajikan. Oleh karena itu dengan pendekatan ini ada beberapa prinsip mendasar yang harus diprhatikan dalam pemilihan bahan ajar kebahasaan, yaitu :
a) Prinsip kebermaknaan. Ini berarti bahwa setiap materi bahasa yang disajikan harus jelas konteksnya, partisifannya atau situasinya.
b) Prinsip pemakaian bahasa bukan pengetahuan bahasa. Oleh karena itu bahan ajar berupa unsur bahasa seperti ; kosakata dan tata bahasa ( المفردات والقواعد ) jangan terpisah dari konteks kalimat atau wacana, karena tujuan utamanya bukan hanya memahami kosakata dan kaidah melainkan penggunaannya dalam ungkapan komunikatif.
c) Prinsip kemenarikan bahan ajar. Dalam hal ini, pembelajaran bahasa harus memperhatikan variasi bahan, minat dan kebutuhan pelajar. Menjajagi minat dan kebutuhan pelajar adalah hal sangat penting dalam pemilihan bahan ajar agar lebih menarik sehingga pembelajaran lebih kondusif dan mendorong partisifasi pelajar.
F. Aplikasi Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Bahasa Arab
Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam mengaplikasikan pendekatan komunikatif pembelajaran bahasa Arab. Pertama, pendekatan ini harus dapat diterjemahakan dalam bentuk desain silabus yang memadai. Kedua, pendekatan ini harus diaplikasikan dengan menggunakan metode dan strategi pembelajaran yang mendukung.
1. Desain Silabus Bahasa Arab Berbasis Pendekatan Komunikatif
Silabus adalah garis-garis besar program pengajaran yang diterjemahkan oleh para pengajar ke dalam kegiatan belajar-mengajar. Menurut Wilkins, strategi pembelajaran bahasa dapat dibedakan menjadi dua tipe, yakni strategi analitik dan sintetik; dan masing –masing melahirkan model silabus yang berbeda. Dalam strategi sintetik, unsur-unsur bahasa (نحو , صرف ومفردات) diajarkan secara terpisah-pisah atau sering disebut dengan teori parsial ( نظرية القروع ). Strategi ini melahirkan model silabus yang struktural, yang membagi unit-unit pelajaran berdasarkan butir-butir gramatikal. Silabus ini terdiri dari dua komponen; qawaid (نحو وصرف) dan mufradat. Butir-butir struktur ini disampaikan berdasarkan prinsip-prinsip kesederhanaan, keterpakaian, dan tingkat kesulitan. Sedangkan mufradat disajikan berdasarkan kebutuhan untuk menguasai qawa’id.
Sementara itu, strategi analitik melahirkan model silabus semantik yang menargetkan pemerolehan kemampuan berbahasa. Oleh karena itu, menyusunannya lebih rumit daripada silabus struktural. Setiap unit pelajaran dirancang untuk menampilkan seperangkat keterampilan berbahasa tertentu dalam konteks tertentu pula. Silabus semantik ini juga terbagi lagi dalam tiga tipe, yakni situasional, fungsional, dan nasional.
Silabus situasional dimaksudkan agar unit pelajaran diorganisasikan berdasarkan situasi di mana pemakaian bahasa diperlukan. Penggunaan bahasa berdasarkan konteks menjadi utama, sedangkan aspek-aspek lain dari silabus seperti mufradat dan qawa’id dipilih berdasarkan tuntutan situasi. Pengorganisasian unit pelajaran juga bisa berbasis tema atau topik (sehingga disebut silabus tematik). Setiap tema atau topik bisa mengandung beberapa situasi, seperti tema “المدرسة” bisa mencakup situasi-situasi antara lain: “إدارة رئيس المدرسة, إدارة الأساتذ,, المكتبة,.”
Silabus fungsional, dimaksudkan bahwa fungsi bahasa akan menjadi basis pengorganisasian unit pelajaran. Aspek-aspek yang lain seperti mufradat dan qawa’id dipilih dan disajikan berdasarkan kategori fungsi bahasa. Topik-topik yang dapat dimasukkan dalam silabus ini yaitu kegiatan keseharian yang bisa diberi judul semisal التحيّة (penghormatan), التهانيء (ucapan selamat), عبارات الشكر والاعتذار (ucapan syukur dan permohonan ma’af), dan lain-lain. Silabus jenis fungsional ini sering ditemukan pada buku-buku percakapan atau muhadasah, di mana buku-buku tersebut merupakan buku acuan yang secara fungsional menjadi model atau contoh-contoh.
Sedangkan silabus nasional dimaksudkan untuk melengkapi kekurangan yang terdapat pada silabus situasional dan fungsional. Silabus nasional ini bersifat elektif sekaligus kompilatif. Kedua model silabus tersebut menciptakan alternatif yang dipandang sesuai dengan kondisi peserta didik.
Sebagai pendekatan terbaru, model itu mengakomodasi, mensitesakan, dan merevisi pendekatan silabus yang sebelumnya, silabus komunikatif dapat dipandang sebagai alternatif dari kedua model silabus yang ada, yakni silabus struktural dan semantik. Silabus komunikatif mengasumsikan bahwa penguasaan bahasa haruslah mencakup batasan kemampuan minimal yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat hidup selayaknya di suatu negeri, yang penduduknya menggunakan bahasa target sebagai alat komunikasi sehari-hari. Menurut Fuad Efendi (2003) struktur silabus komunikatif hendaknya menjelaskan empat hal, yakni: (1) fungsi bahasa (menyampaikan informasi, mengungkapkan gagasan, tanggapan, dan lain-lain); (2) nosi dan ranah bahasa (tempat, situasi, dan waktu penggunaan bahasa); (3) kegiatan berbahasa (menguasai keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis); dan (4) tingkat keterampilan yang diperlukan berisi keterangan tentang tingkat keterampilan para pelajar, yang diharapkan ialah melaksanakan fungsi-fungsi bahasa, melakukan kegiatan berbahasa yang telah dijelaskan sebelumnya sehingga terjadi komunikasi secara efisien dan wajar.
2. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab dengan Pendekatan Komunikatif
Masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam dan merupakan komunitas muslim yang sebenarnya sudah sangat akrab dan familiar dengan terma-terma maupun simbol-simbol Arab. Hal ini merupakan modal dan ruang yang cukup kondusif bagi pengembangan berbahasa Arab. Akan tetapi, dari beberapa fakta di lapangan, banyak hal yang memprihatinkan dan tidak mudah melakukan kegiatan pembelajaran bahasa Arab di tengah mereka, terlebih dengan pendekatan komunikatif. Artinya, bahwa perlu ada strategi alternatif untuk lebih membuat pembelajaran bahasa Arab ini lebih menarik dan memiliki efektivitas yang tinggi.
Dengan demikian, dalam rangka mengimplementasikan pendekatakan komunikatif dalam pembelajaran bahasa Arab ada beberapa strategi pembelajaran yang biasa dietrapkan, diantaranya adalah:
Pertama, dalam proses pembelajaran dengan pendekatan komunikatif, bahasa sebagai instrumen utama untuk komunikasi harus difungsikan secara maksimal. Dalam hal ini, aktivitas belajar berbahasa lebih diarahkan pada kegiatan-kegiatan yang bersifat ekspresif. Bahkan, menurut Robert Lado, sebagaimana dikutip Umar Asasuddin Sokah (1982), hal itu dikenal dengan ‘lima semboyan berbahasa. Menurutnya, berbahasa haruslah dimulai dengan menerapkan lima prinsip, yakni (1) bahasa adalah ujaran bukan tulisan, (2) bahasa adalah seperangkat kebiasaan, (3) ajarkan bahasa bukan sesuatu tentang bahasa, (4) bahasa adalah apa yang dikatakan oleh penutur asli dan bukan apa yang dikatakan oleh orang, dan (5) bahasa-bahasa itu berbeda. Apa yang dikatakan Lado tersebut menggambarkan betapa substansi bahasa itu sendiri adalah berbahasa secara fungsional atau berkomunikasi langsung. Strategi yang digunakan adalah metode langsung ( طريقة مباشرة ) dan metode alamiah ( طريقة طبيعية ).
Kedua, menurut Lado, belajar hendaknya lebih menekankan pada materi percakapan karena materi ini lebih sesuai dengan hakikat pembelajaran bahasa sebagai alat komunikasi. Metode dan teknik yang digunakan adalah metode ‘dengar-ucap’ (طريقة سمعية شفوية) dan metode langsung dengan menekankan latihan pendengaaran dan ucapan. Kondisi lingkungan pelajar menjadi hal yang sangat utama dan merupakan hambatan yang paling sering dihadapi pelajar.
Ketiga, topik yang disajikan dalam pembelajaran haruslah topik yang dibutuhkan, difungsikan, dan menjadi perhatian dalam kehidupan sehari-hari. Perlu dihindari materi atau topik pembelajaran yang sering tidak konteks dengan kehidupan nyata, yang dialami para pelajar. Oleh karena itu, pengajar dituntut untuk kreatif dalam memilih materi yang disajikan.
Keempat, kegiatan pembelajaran diperkuat dengan latihan-latihan penggunaan bahasa yang produktif. Latihan-latihan ini dapat berupa latihan pengucapan vokal dan konsonan, penggunaan tekanan kata, tekanan kalimat, tinggi rendahnya nada ‘intonasi’, ( تنغيم ) persendian ( نبر ), pemilian kata yang tepat ( عبارات ), penggunaan kalimat atau ungkapan untuk situasi yang tepat, dan penyusunan kalimat menjadi paragraf untuk kemudian dikembangkan menjadi uraian buah pikiran yang logis dan bulat.
Kelima, guru hendaknya lebih mengembangkan sikap fasilitatif dan motivatif dalam rangka menciptakan sikap inisiatif pada peserta didik. Kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam latihan hendaknya disikapi dengan baik agar tidak menimbulkan traumatik sekecil apapun. Hal ini berarti siswa diberi kebebasan untuk berekspresi tanpa takut salah.
Keenam, jumlah peserta hendaknya tidak terlalu banyak untuk memudahkan kontrol dan menggunakan pola berpasang-pasangan. Sekali lagi, jumlah peserta dalam setiap kelas berkorelasi dengan intensitas bimbingan guru dan kesempatan peserta didik untuk aktif dalam proses pembelajaran.
Ketujuh, banyak tugas dan latihan yang diberikan kepada para murid dalam rangka menciptakan rasa tanggung jawab. Tugas tersebut juga harus memperhitungkan pendekatan komunikatif dalam artian fungsional.
Kedelapan, lingkungan diciptakan untuk mendukung suasana penguatan pembelajaran bahasa tersebut dengan membuat tata ruang yang tepat dan kondusif, serta adanya simbol-simbol bahasa. Pembelajaran bahasa sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang ada di sekitar penutur bahasa tersebut seperti pendengar, topik pembicaraan, kode yang digunakan, lokasi kejadian, dan amanat atau pesan pembicaraan. Menurut Heidi Dulay dkk., seperti dikutip Sumarsono (2000), terdapat empat lingkungan makro yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran bahasa, yakni: (1) kealamiahan bahasa yang didengar, (2) ketersediaan acuan untuk memperjelas makna, (3) peranan pembelajar dalam berkomunikasi, dan (4) siapa yang menjadi model bahasa sasaran.
Kesembilan, perlu adanya organisasi yang dibentuk dan dipimpin oleh leader yang memiliki kemampuan leadership unggul, memiliki apresiasi, dan komitmen yang tinggi tentang kebahasaan. Bahasa membutuhkan model dan figur yang konsisten untuk membangun budaya berbahasa yang efektif.
Kesepuluh, waktu yang dibutuhkan relatif lebih banyak dan lama karena digunakan dalam kegiatan praktik. Untuk meluaskan waktu dalam belajar bahasa, maka guru atau sekolah dapat memanfaatkan kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler sebagai arena untuk praktik bahasa.
Daftar Pustaka
Ali al-Khouly, Muhammad. 1982. Asalib Tabrisil Lughah al-Arabiyah. Riyadl: Mathabi’ al-Farazdaq wa al-Tijarah, al-Mamlakah al-Saudiyah.
Arsyad, Azhar. 2003. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya: Beberapa Pokok Pikiran. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Asrori, Imam. 2004. Sintaksis Bahasa Arab: Frasa, Klausa, Kalimat. Malang : Misykat
Aziz, Furqanul dan Chaedar al-Wasliyah. Pengajaran Bahasa Komunikatif: Teori dan Praktek. Bandung ; Remaja Rosdakarya.
Efendy, Ahmad Fuad. 2004. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Malang : Misykat.
Kamalie, Saifullah. 2004. Menciptakan Lingkungan Untuk Belajar Bahasa Arab, Jakarta : Balai Diklat Departemen Agama.
Sokah, Umar Asasuddin. 1982. Problematika Pengajaran Bahasa Arab danInggris. Surabaya : Nur Cahaya.
Sumardi, Mulyanto. 1989. Pengembangan Pemikiran dalam Pengajaran Bahasa. Jakarta : Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah.
Sumarsono. 2000. “Peranan Guru Sebagai Lingkungan Belajar Bahasa Kedua”, dalam http;//www.ialf.edu/bipa/april 2000/perananguru.html.
Umam, Khotibul. 1980. Aspek-Aspek Fundamental dalam Mempelajari Bahasa Arab. Bandung : PT al-Ma’arif.
Wahab, Abdul Muhbib. 2005. “Teknik dan Model Penyajian Materi Bahasa Arab” dalam Diklat Guru BahasaAraboleh Departemen Agama di Jakarta.
Zaenuddin, Rodliyah. 2005. Pembelajaran Bahasa Arab (Metode dan Strategi Alternatif). Cirebon : STAIN
0 komentar:
Posting Komentar